Sunday, May 20, 2007

BERTAUBAT TAPI BELUM TOBAT
(HR. ABDULLAH BIN MAS’UD RA)

Rasul bertanya kepada para sahabat
” Tahukah kamu, siapa orang yang dianggap bertaubat itu ?”

Para sahabat menjawab , ” Allah ... Rasul-Nya lebih mengetahui. ”

Rasullah lalu bersabda:
Barangsiapa bertaubat tetapi tidak menuntut ilmu ia bukannya telah bertaubat.

Barangsiapa bertaubat tetapi tidak menambah ibadahnya ia bukannya telah bertaubat

Barangsiapa bertaubat, tetapi tidak diampuni tidak di ridhoi oleh musuhnya ia bukannya telah bertaubat

Barangsiapa bertaubat , tetapi tidak merubah pakaiannya ia bukannya telah bertaubat

Barangsiapa bertaubat tetapi tidak mengganti temannya ia bukannya telah bertaubat

Barangsiapa bertaubat, tetapi tidak mensedekahkan kelebihan yang dimilikinya ia bukannya telah bertaubat

Barangsiapa bertaubat, tetapi tidak melipat sprei dan permadaninya ia bukannya telah bertaubat.

Maka barangsiapa telah dapat memenuhi perilaku-perilaku tersebut ia seorang petaubat yang benar

Selanjutnya...

HADIAH MENGGUNJING
I.
Abu Umamah Albahili berkata :
Dihari kiamat seorang hamba Allah menerima catatan amalnya.
Setelah memeriksa dan membaca ia menemukanbeberapa kelebihan catatan amal kebajikanyang ia sendiri merasa tidak pernah melakukan .

” Ya Tuhanku... darimanakah aku memperoleh ini ”
Dijawab oleh Allah :
” Itu adalah amal orang lain yang telah menggunjingmu tanpa engkau ketahui ”

II.
Alhasan Albashri pernah mengirim hadiah kepada seseorang yang ia dengar orang itu telah menggunjingnya berupa hadiah kurma dalam sebuah baki sambil disisipkan pesan yang berbunyi:
” Aku telah mendengar bahwa engkau telah menghadiahkan kepadaku pahala amal-amal kebajikanmu, maka sebagai imbalan terimalah hadiahku ini. ”

(Manusia-manusia bercermin: MIF BAIHAQI ; 27)

Selanjutnya...

Friday, May 11, 2007

RENUNGAN

Sebuah Pelajaran Sederhana
Dia adalah remaja lelaki yang berusia 13 tahun. Di rumah kecil sederhana tempat ia dikasihi seisi rumah. Ibunya biasa memanggilnya dengan sebutan “ Hey , calon ayah yang baik...!” atau “ Hey, calon ayah yang peduli ...!” Di lain waktu ia kerap dipanggil , “ Wahai calon ayah yang suka berbagi ...!” Dan dibanyak kesempatan sering pula terdengar panggilan,” Anakku calon lelaki terbaik di muka bumi ...!” Hmm...unik ya?
Ada banyak “ keunikan “ lain di rumah itu. Antara lain, bukan hanya kepada ayah dan ibu ia mencium tangan, tetapi juga kepada mbak dan ibu khadimat ( pembantu . red ), Pak sopir dan Pak kebun, Ibu penjual pepaya keranjang, Bapak sol sepatu, Bapak petugas kebersihan, Om pengantar koran, Paman-paman satpam, Om-om tukang ojek ..sedangkan terhadapa para tamu jauh, kompor mereka pasti menyala, lemari pakaian dibuka, dompet dan tabungan kerap dikeluarkan isinya.
Berikan yang terbaik
Nah, suatu hari, remaja berusia 13 tahun ini membukakan pintu untuk seorang ibu tidak dikenal yang mengaku datang dari luar kota. Ibu itu beruntung mendapatkan separuh isi lemari peralatan ibadah yang berisi beberapa barang terbaik, beberapa diantaranya hadiah dari kenalan dan ada juga yang baru dibeli.
Hihihi...si anak lelaki ini bergeming dia, menekuri tuts komputernya ketika perilakunya itu diadukan ibu khadimatnya pada ibunya. Salah seorang diantara kerabat mereka mengatakan, kalaulah tahu benda-benda bagus itu akan diberikan pada musafir tidak dikenal, dia akan minta terlebih dahulu. “ Kenapa tidak memberi yang bekas saja ? Yang bekas juag masih bagus, kok “
Sang remaja 13 tahun, sang calon ayah dan lelaki terbaik dimuka bumi itu mendengar semua “ dakwaan “ untuknya sambil menekur. Ketika usapan sang ibu sampai diujung rambut dan punggung, sang remaja muda ini mengangkat kepalanya, lalu memandang wajah ibunya seraya berkata “Ibu marah, ya?”
“ Menurutmu, patutkah aku marah dalam hal ini ?” sang ibu balik bertanya. Anak lelaki itu terdiam sesaat lalu menjawab, “ Bukankah Ibu selalu mengatakan, “ Berikan yang terbaik pada saudaramu’ dan aku menjalankannya. Kalau soal jumlah, kupikir kalau aku berikan serep beberapa, tentu ibu musafir itu tambah panjang usia ibadahnya. Sajadah dan mukena yang ku tambahkan selain yang untuk serep, kuharap akan menambah jumlah orang yang rajin sholat dan ibadah. Kan ibu itu tidak mungkin memakai semuanya. Dia bisa memberikan kepada saudaranya, anaknya atau tetangganya yang miskin juga. Sudah ku hitung, sisanya cukup untuk beribadah seisi rumah.”
“ Kau benar, anakku...!” jawab sang ibu.
Lelaki muda berusia 13 tahun itu saja bisa menggunakan akal dan nuraninya dengan arif dan antisipatif. Bagaimana denganmu wahai ayah yang peduli? Ayah yang suka berbagi ?
( dikutip dari buletin Alfalah edisi khussu milad-228)
Ketika membaca tulisan diatas ada keharuan yang sangat air mata tak terasa meleleh .....bukan hanya kisah yang sangat bagus untuk kita renungkan khususnya bagi calon-calon ayah dan ayah-ayah yang ada sekarang , tapi keharuan yang sangat atas seorang ibu yang bisa membuat anak remaja 13 tahun mempunyai jiwa yang begitu bagus , nuraninya yang arif ....
Ibu adalah madrasah yang pertama di muka bumi ini . Di tangan ibulah insan-insan baru kan terbentuk pribadinya ......
Ibu remaja tadi sungguh ibu yang mulia yang dengan ajarannya dan didikannya bisa melahirkan remaja yang masih 13 tahun mempunyai pribadi yang bisa peduli yang suka berbagi , peduli sesama bahkan dia memikirkan jauh dari yang bisa kita bayangkan. Ibu yang arif dan bijaksana.
Sudah siapkah calon ibu-ibu dan ibu –ibu yang yang ada melahirkan remaja-remaja yang mempunyai akal dan nurani yang arif dan antisipatif ?

Selanjutnya...

NAMAMU

" Aku sebut namaMU ketika panah menusukku.....Sementara itu darah mengucur didadaku ....Aku ingin mengecup pedang itu Karena ia berkilau seperti keberserian senyum bibirMU "

Selanjutnya...

Wednesday, May 9, 2007

Detik-detik Rasulullah SAW menjelang sakratul maut


Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.
Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
* * * Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-2 muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencinta kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.
Dari mailist tetangga
(brabangkara 27/04/2007)

Selanjutnya...

Sunday, May 6, 2007

BERSIAP-SIAPLAH

Janganlah sekali-kali menunda-nunda dengan berkata " Aku akan bersiap-siap untuk akhir hayatku apabila tampak tanda-tandanya."
Setiap nafas diantara nafas-nafasmu bisa jadi merupakan akhir hayatmu saat ruhmu tercabut.

Selanjutnya...

IBU
Seorang ibu adalah Madrasah.
Apabila engkau mempersiapkannya berarti engkau telah mempersiapkan generasi muda yang baik dan gagah berani.
Seorang ibu adalah guru yang pertama.
Dari semua guru yang yang pertama yang pengaruhnya menyeluruh seluruh jagat raya

Selanjutnya...